15 Tahun Jalan Desa Terabaikan, Dapat Melunturkan Semangat Belajar Anak-Anak Caringin Tegalbuleud 

wahanainformasi.com – Sukabumi – Sukabumi – Sudah 15 tahun lamanya warga Kampung Caringin, Desa Nangela, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi hidup dengan akses jalan yang rusak parah. Jalan sepanjang kurang lebih delapan kilometer yang menjadi satu-satunya urat nadi kehidupan warga tak pernah dibangun.

Jangankan aspal, pengerasan jalan pun belum sekali pun hadir di kampung terpencil tersebut.
Kondisi ini kini membawa dampak yang lebih menyakitkan : pendidikan anak-anak Caringin berada di ujung tanduk.

Pantauan awak media wahana informasi, aktivitas belajar mengajar di SDN Caringin Kelas Jauh terancam berhenti. Sekitar 40 kepala keluarga diliputi kecemasan karena masa depan pendidikan anak-anak mereka bisa terputus sewaktu-waktu, Rabu (7/1/2026).

Para orang tua murid hanya bisa berharap pemerintah segera membuka mata dan telinga. Mereka mengingatkan bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara, sebagaimana tertuang dalam amanat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Memindahkan anak-anak kami ke sekolah lain bukan solusi. Jaraknya terlalu jauh dan mustahil ditempuh dengan berjalan kaki,” tutur seorang wali murid dengan suara tertahan, mencerminkan kegelisahan para orang tua di kampung itu.

Pantauan di lapangan pada Kamis (8/1/2026) memperlihatkan betapa ironisnya kondisi jalan tersebut. Saat hujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin. Saat kemarau, debu tebal beterbangan. Jalan rusak itu berada tepat di Kampung Caringin, Desa Nangela, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi.

Seorang tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, selama sekitar 15 tahun terakhir, belum ada bantuan pembangunan jalan yang menyentuh kampung mereka. Dan jalan tersebut merupakan satu-satunya akses anak-anak menuju ke sekolah.

Kisah pilu juga datang dari Turino, guru SDN Caringin Kelas Jauh, yang telah hampir dua dekade mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak Caringin. Namun kondisi kesehatannya yang kian menurun, ditambah orang tuanya yang sering sakit, memaksanya mengajukan mutasi.

“Setiap hari saya harus berjalan kaki sekitar tujuh kilometer melewati jalan rusak. Dengan kondisi jantung saya seperti ini, itu sudah sangat berat,” ungkap Turino dengan nada lirih.

Meski telah mengajukan mutasi, kecintaan Turino pada kampung dan murid-muridnya tak pernah pudar. Ia menegaskan siap membatalkan keputusannya jika akses jalan dibangun.

“Kalau jalan ini diperbaiki, minimal bisa dilalui motor atau mobil, saya tidak akan pergi. Saya akan membawa orang tua saya ke sini dan tetap mengajar anak-anak di Caringin,” tegasnya.
Kini, nasib pendidikan anak-anak Kampung Caringin bergantung pada kepedulian pemerintah.

Bagi warga, jalan bukan sekadar infrastruktur, melainkan satu-satunya jembatan menuju masa depan yang lebih baik bagi generasi mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *