Wahanainformasi.com – Bogor – Distribusi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, dihentikan sementara. Keputusan itu diambil setelah ratusan warga dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui posyandu.
Kepala Desa Pasir Tanjung, Rizal Baharudin Zen, menegaskan penghentian dilakukan sebagai langkah antisipasi sekaligus merespons kekhawatiran warga.
“Untuk sementara sekarang dihentikan dulu, Pak,” ujar Rizal di ruang kerjanya, Rabu (8/4/2026).
Distribusi MBG di desa tersebut sebelumnya menjangkau enam posyandu dalam satu wilayah. Dari total 315 penerima manfaat, 107 warga dilaporkan mengalami keluhan kesehatan.
“Itu dari 6 posyandu, satu desa,” kata Rizal.
Menurut dia, makanan yang dibagikan tidak hanya dikonsumsi di lokasi, tetapi juga dibawa pulang oleh sebagian warga. Kondisi itu membuat dampak yang muncul menjadi lebih luas.
“Ada yang dibawa pulang, ada yang makan di tempat,” ujarnya.
Keluhan mulai dirasakan warga sejak beberapa jam setelah konsumsi, Selasa (6/4/2026). Awalnya hanya sejumlah kecil warga yang mengeluh tidak enak badan, namun jumlahnya bertambah hingga malam dan berlanjut pada hari berikutnya.
“Dari sore itu sudah ada yang merasa tidak enak badan. Sampai malam banyak,” kata Rizal.
Pasca kejadian, warga memilih tidak mengambil makanan yang sempat kembali didistribusikan. Kekhawatiran terhadap keamanan pangan menjadi alasan utama penolakan tersebut.
“Karena sudah ketahuan, warga itu tidak mau mengambilnya. Khawatir,” ujarnya.
Saat ini, penanganan difokuskan pada kondisi kesehatan warga terdampak. Sebagian menjalani perawatan di puskesmas dan klinik, sementara lainnya memilih berobat secara mandiri.
Pemerintah desa juga membuka kemungkinan evaluasi lebih lanjut terhadap pihak penyedia makanan. Rizal menyatakan langkah tegas akan diambil apabila ditemukan unsur kelalaian dalam proses distribusi.
“Kalau memang ada unsur kelalaian itu, ya kita juga mungkin harus menindak tegas,” ucapnya.
Sementara itu, pihak Puskesmas Tanjungsari masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab kejadian. Pemeriksaan dilakukan melalui pendataan pasien dan anamnesa lanjutan, mengingat belum tersedia sampel yang dapat diuji secara laboratorium.










