Wahanainformasi.com – Sukabumi – Satreskrim Polres Sukabumi tengah mendalami kasus kematian tragis seorang bocah laki-laki asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi.
“Pagi ini mau otopsi untuk dugaan terhadap narasi (KDRT) tersebut. Kami masih menunggu hasil otopsi,” jelas Hartono, Jumat (20/2/2026) pagi.
Hasil autopsi yang dilakukan tim forensik mengungkap adanya luka bakar di hampir seluruh bagian tubuh korban.
Terpisah, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi, Kombes Carles Siagian, menjelaskan proses autopsi dilakukan setelah pihaknya menerima jenazah dari Polres Sukabumi.
“Kami dari RS Bhayangkara Tingkat II Kota Sukabumi menerima laporan dari Polres Sukabumi pada Kamis malam. Jenazah kami terima pada Jumat dini hari, dan hari ini dokter forensik melakukan autopsi,” kata Carles kepada awak media, Jumat (20/2/2026).
Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan luka bakar pada sejumlah bagian tubuh korban. Luka terlihat pada anggota gerak, terutama kaki kiri, punggung, hingga area wajah.
“Ditemukan anak usia 12 tahun dengan luka bakar di anggota gerak, di kaki kiri, kemudian ada beberapa luka juga di punggung. Luka bakar juga ada di area bibir dan hidung yang diduga karena panas,” ujarnya.
Ia menyebut, luka bakar tersebut tersebar di sekujur tubuh, termasuk lengan, kaki, paha, dan tangan. Namun demikian, pihaknya belum dapat memastikan apakah luka tersebut akibat tindak penganiayaan atau bukan.
“Kami tidak bisa menyebutkan apakah itu kekerasan atau bukan. Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar,” ucapnya.
Meski terdapat luka bakar, tim forensik belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian korban. Menurut Carles, luka-luka tersebut secara teori tidak serta-merta menyebabkan kematian.
“Penyebab kematian masih belum bisa disimpulkan karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian,” katanya.
Autopsi dilakukan selama kurang lebih 2,5 hingga 3 jam. Tim forensik juga telah melakukan pemeriksaan organ dalam dan mengambil sampel untuk uji laboratorium lanjutan.
“Sudah dilakukan pemeriksaan dalam, organ-organ diautopsi dan kami melakukan pemeriksaan laboratorium yang dikirim ke Jakarta. Kami sedang menunggu hasil untuk mengetahui apakah ada zat-zat lain di dalam organ,” jelasnya.
Organ yang diperiksa dan dikirim untuk pengujian antara lain jantung dan paru-paru. Pada pemeriksaan awal ditemukan adanya sedikit pembengkakan.
“Jantung dan paru-paru kami periksa karena ada sedikit membengkak. Belum tahu apakah itu karena korban punya penyakit sebelumnya atau tidak,” tambahnya.
Tim forensik juga memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan tumpul pada tubuh korban. “Untuk kekerasan tumpul tidak ada,” tegasnya.
Sementara itu, luka di area bibir bagian atas dan dekat hidung disebut sebagai luka lama, sehingga belum bisa dipastikan apakah berasal dari benturan benda tumpul atau sebab lain.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena melibatkan seorang anak di bawah umur. “Ini memang jadi perhatian karena seorang anak (jadi korban) yang kita juga sangat sayangkan,” pungkas Carles.
Ayah korban, Anwar Satibi, yang juga merupakan Ketua Yayasan Forum Silaturahmi Barisan Benteng Pajampangan (YFSBBP) Kecamatan Surade, menyatakan bahwa keputusan autopsi diambil demi mencari keadilan dan kebenaran.
Ia tak ingin kematian putranya menjadi bola liar fitnah di tengah masyarakat.
“Saya ingin memastikan penyebabnya. Saya tidak mau menuduh sembarangan karena itu bisa jadi fitnah. Kemarin sempat bimbang karena kasihan melihat kondisi anak, tapi daripada penasaran berkepanjangan, saya putuskan lanjut autopsi,” ujar Anwar di RS Bhayangkara.
Anwar mengakui selama ini dirinya jarang berada di rumah karena tuntutan pekerjaan sebagai penyedia jasa panggilan. Selama ini, NS tinggal bersama ibu sambungnya di Jampangkulon. Di tengah duka mendalam, Anwar memberikan pesan emosional kepada para orang tua.
“Pesan saya, serusak apa pun rumah tangga, usahakan pertahankan demi anak. Jangan sampai anak-anak (hanya) diasuh oleh orang lain atau ibu tiri tanpa pengawasan kita,” tuturnya lirih.
Sebelumnya Kematian NS menjadi perbincangan hangat setelah video kondisi korban saat menjalani perawatan di RSUD Jampangkulon beredar luas di grup WhatsApp dan Facebook.
Banyak warganet yang berspekulasi bahwa siswa kelas 1 SMP sekaligus santri tersebut merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
NS dinyatakan meninggal dunia pada Kamis sore (19/2/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.
Pihak kepolisian melalui Satreskrim Polres Sukabumi bersama tim forensik berkomitmen untuk mengumumkan hasil penyelidikan secara transparan setelah seluruh hasil uji laboratorium rampung.
















