Wahanainformasi.com – Di tengah berbagai pembahasan strategis mengenai Papua, sebuah momen sederhana namun penuh makna terjadi dalam Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) III. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menerima dua buku yang mengangkat isu budaya, lingkungan, dan hak masyarakat adat Papua.
Buku tersebut diserahkan langsung oleh pegiat literasi Papua, Angginak Sepi Wanimbo. Melalui karya tulis tersebut, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat asli Papua diharapkan dapat dipahami lebih luas oleh para pemimpin daerah dan pemangku kebijakan.
Dalam pertemuan itu, perhatian tidak hanya tertuju pada isi buku, tetapi juga pada pesan yang disampaikan mengenai pentingnya menjaga identitas Papua. Mulai dari tanah adat, bahasa daerah, hingga kelestarian hutan menjadi topik yang mendapat sorotan.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan upaya menjaga budaya dan lingkungan. Menurutnya, kemajuan suatu daerah tidak boleh menghilangkan identitas masyarakat yang telah hidup dan menjaga wilayah tersebut selama bertahun-tahun.
Pesan tersebut mendapat perhatian dari peserta konferensi karena dinilai relevan dengan tantangan yang sedang dihadapi berbagai daerah di Indonesia, termasuk Papua yang memiliki kekayaan budaya dan sumber daya alam yang besar.
Pertemuan ini menunjukkan bahwa dialog mengenai masa depan Papua tidak hanya dilakukan melalui forum resmi, tetapi juga melalui literasi dan pertukaran gagasan yang dapat membuka wawasan baru bagi banyak pihak.
Bagaimanapun, kekayaan alam Papua harus dilestarikan dan dijaga keasriannya, sehingga budaya yang ada dan hidup di dalam hutan dapat terjaga dan lestari.













