Wahanainformasi.com, Kamis, 17/09/2026 – Tongkat estafet kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi berpindah. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031, menggantikan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Penetapan tersebut menjadi hasil akhir Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.
Gus Kikin, yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan cicit pendiri NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, terpilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Sebelumnya, dalam Sidang Pleno V penjaringan bakal calon Ketua Umum, Gus Kikin meraih suara tertinggi dengan 472 suara, mengungguli empat kandidat lain yakni KH Zulfa Mustofa 262 suara, KH Abdussalam Sochib 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf 258 suara, dan KH Abdul Ghofar Rozin 155 suara.
Kelima nama tersebut kemudian diserahkan kepada AHWA. Melalui musyawarah tertutup yang berlangsung pada Senin (31/8/2026) pukul 06.20 – 07.00 WIB, sembilan kiai sepuh anggota AHWA secara mufakat menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum. Di saat yang sama, KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU.
Pergantian ini menandai babak baru bagi NU di abad keduanya. Selama periode 2021-2026 di bawah kepemimpinan Gus Yahya, PBNU mencatat sejumlah terobosan organisasi, namun juga diwarnai dinamika internal yang intens, mulai dari ketegangan Syuriyah-Tanfidziyah hingga perdebatan arah organisasi.
Dalam pidato perdananya usai terpilih, Gus Kikin menegaskan komitmen untuk mengembalikan NU pada khittahnya sebagai jam’iyyah diniyah ijtima’iyyah.
“NU itu bukan untuk berpolitik. NU itu adalah organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan,” ujar Gus Kikin.
Ia juga menyatakan Qanun Asasi karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari akan menjadi pedoman utama perjalanan NU ke depan, serta berjanji merampungkan susunan kepengurusan baru maksimal dalam satu bulan dan membuka ruang bagi seluruh potensi warga Nahdliyin.
Estafet dari Gus Yahya ke Gus Kikin diharapkan tidak hanya menjadi pergantian figur, melainkan momentum konsolidasi dan penguatan kembali peran NU untuk kemaslahatan umat dan bangsa.





















