Wahanainformasi.com – Sukabumi – Media sosial dihebohkan dengan potongan video yang memperlihatkan aksi seorang pria berpakaian minim di tengah prosesi adat Kasepuhan Gelar Alam (Dulu Ciptagelar), Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Aksi tersebut menuai kecaman warganet karena dinilai sangat kontras dengan aturan adat yang mewajibkan pakaian sopan dan santun.
Insiden ini diketahui terjadi dalam rangkaian acara khitanan putra kedua dari pimpinan tertinggi Kasepuhan Gelar Alam, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, pada Jumat (10/4/2026) lalu.
Juru Bicara Kasepuhan Gelar Alam, Yoyo Yogasmana, mengaku kaget saat melihat visual video pria yang diduga bernama Mang Bono tersebut.
Pasalnya, pria itu terlihat hanya mengenakan pakaian dalam saat menghampiri Abah Ugi di atas panggung.
“Saya begitu lihat visual kan itu kejadiannya, tiba-tiba lihat visualnya aduh aya nu kieu (aduh ada yang begini). Dan itu saya nggak bisa ngomong, karena berhubungan dengan aransemennya apakah memang gayanya dia atau apa, nggak mengerti,” ujar Yoyo saat diwawancarai, Minggu (12/4/2026).
Yoyo sendiri mengaku merasa kecolongan mengenai siapa pihak yang mengundang atau membawa pria tersebut ke dalam rangkaian acara resmi kasepuhan.
“Saya sendiri berpikir, sampai nanya, yang mengundang siapa ya?” katanya dengan nada heran.
Meski aksi ini memicu kemarahan netizen, Yoyo menjelaskan bahwa pihak Kasepuhan, Baris Kolot, maupun Abah Ugi sendiri tidak melihat hal tersebut sebagai sebuah insiden besar yang melanggar norma secara radikal.
Bagi masyarakat adat di sana, segala sesuatu yang terjadi dipandang secara filosofis.
“Disebutnya ya bahasa di sini, baik ataupun buruk juga adalah kehidupan. Apa yang sudah terjadi tidak perlu harus jadi sesuatu yang bagaimana, ya mudah-mudahan menjadi pembelajaran saja dari semuanya,” jelas Yoyo.
Yoyo menambahkan bahwa pihak Kasepuhan sebenarnya sangat bebas dan terbuka kepada siapa pun yang datang. Namun, secara norma umum dan etika lingkungan, apa yang ditampilkan memang sangat disayangkan.
“Bahasanya kan masalah pantas dan gak pantas. Lungguh jeung teu lungguh (pantas atau tidak pantas) bahasanya. Dari kacamata umum sudah ‘aduh disayangkan kok ada yang begini’,” ungkapnya.
Di era media sosial saat ini, Yoyo menyadari bahwa informasi sangat cepat menyebar hingga ke pelosok pegunungan. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi para tamu untuk memahami tata titi duduga prayoga atau etika bersikap yang disesuaikan dengan lingkungan setempat.
“Mudah-mudahan menjadi pembelajaran bagi siapapun untuk saling mengenal dengan baik tentang tata titi duduga prayoga yang disesuaikan dengan lingkungan. Hal kebaikan dan keburukan itu adalah zamannya, kembali ke setiap individunya untuk mampu menyesuaikan dengan kondisi,” pungkasnya.
Hingga saat ini, video tersebut masih menjadi bola panas di media sosial. Netizen mendesak pihak panitia lebih selektif dalam memilih hiburan agar marwah Kasepuhan Gelar Alam sebagai benteng tradisi tetap terjaga.















